Kisah Semangkuk Sambal Matah

image

Saya mengambil beberapa potong ayam betutu dari hidangan di meja prasmanan. Setelah celingukan sejenak, saya tidak menemukan sambal matah yang biasanya dihidangkan dengan ayam betutu.

Sambal matah adalah bumbu pedas yang dibuat dengan irisan bawang merah, cabe, dan bawang putih yang dimasak dengan minyak panas. Sejak pertama kali saya mencobanya di restoran Ayam Betutu khas Gilimanuk di Denpasar, Bali, saya ketagihan. Sampai saya pernah makan dengan beberapa kali menambah porsi karena nikmat sambal ini.

Ayam betutu tanpa sambal matah terasa kurang lengkap. Untuk mengobati rasa kecewa, saya mencoba mengganti dengan sambal ulek yang ada. Tapi saya masih penasaran.

Kebetulan Pak Andri, banquet captain yang bertugas hari ini, sedang berada dekat saya. “Pak, tidak ada sambal matah, ya?” tanya saya.
“Saya tanya sebentar ke kitchen ya Pak,” jawabnya. Tidak lama kemudian dia kembali. “Maaf, sambalnya tidak ada. Tapi kalau mau bisa dibuatkan sebentar. Cuma lima menit.”

Setelah mengucapkan terima kasih, saya kembali ke meja saya dan mengobrol sambil menunggu. Di luar dugaan saya, Pak Andri kembali dengan membawa mangkuk bubur yang hampir penuh dengan sambal matah yang masih hangat. “Ini sambalnya Pak. Selamat menikmati!” katanya dengan senyum ramah.

Baru sekali ini saya dibawakan sambal sebanyak itu. Biasanya sambal disajikan sedikit sekali dalam wadah kecil, dan sebentar saja sudah habis. Kali ini setelah puas menikmati ayam betutu sampai habis, masih tersisa sambal setengah mangkuk. Setengah bercanda, saya meminta Pak Andri untuk menyimpannya untuk makan malam.

Dan malamnya, banquet captain,¬† bukan Pak Andri, menghampiri meja makan saya. “Pak Stephen, masih mau sambal matahnya?” Saya cukup terkejut karena tidak menduga hal yang saya minta dengan tidak serius ternyata ditanggapi dengan sungguh-sungguh. Bahkan Pak Andri sampai menitipkan pesan pada rekannya soal itu. Saya mengiyakan dengan semangat. Setelah datang, saya membaginya dengan teman-teman semeja sampai habis.

Pak Andri masih mampir ke meja saya untuk memastikan bahwa sambal matah tadi sudah diantarkan.

Saya sungguh terkesan dengan pelayanan Restoran Srikandi The Royal Surakarta Heritage Hotel. Dari pengalaman ini saya belajar beberapa hal tentang pelayanan pelanggan :

1. Dengarkan permintaan pelanggan.
2. Berikan lebih dari yang diharapkan
3. Bekerja sama dengan rekan kerja
4. Tindaklanjuti untuk memastikan pelanggan sudah mendapatkan apa yang telah dijanjikan.
5. Anggap permintaan pelanggan sebagai peluang untuk melampaui harapannya.

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s