Bukan Sulap, Bukan Sihir, Uang Bisa Menguap!

Beberapa hari yang lalu, Supervisor HR di kantor kami berkeliling dari satu ruangan ke ruangan yang lain sambil membawa setumpuk amplop berwarna hijau dan kuning. Dari jauh pun semua sudah tahu, itu laporan keuangan pribadi dari Dana Pensiun Lembaga Keuangan kami.

Saya menerima amplop jatah saya dan membukanya dengan pasrah. Benar saja. Hasil pengembangan terakhir minus 21%. Inilah hasilnya kalau berinvestasi di saham. Kalau naik, naiiiiiiiik, kalau turun, turuuuuun.

Dulunya 100% investasi dana pensiun saya taruh di dana pasar uang, yang naiknya lambat tapi pasti tidak akan turun. Hasil pengembangan selama 6 tahun pun lumayan. Apalagi saya termasuk yang semangat menyisihkan sebagian gaji ke dana pensiun. Sejak awal menjadi anggota DPLK, saya sudah menyisihkan 10% gaji di luar kontribusi dari Perusahaan, sementara kebanyakan teman-teman masih menyisihkan 3% – 5% saja.

Di jaman IHSG sedang panas-panasnya sampai tembus level 2700 poin, saya tergiur untuk berinvestasi saham. Saya putuskan untuk membagi dua dana yang saya miliki. Setengah tetap di dana pasar uang, setengah masuk ke saham.

Rasanya tidak sampai dua bulan kemudian, pasar modal rontok. Padahal sejak lama saya sudah sibuk memperingatkan direksi bahwa gonjang-ganjing subprime mortgage di Amerika akan sampai ke Indonesia. Saya sudah bilang bahwa para investor asing akan melakukan restrukturisasi portofolio mereka dengan menarik dana dari pasar-pasar modal, termasuk dari Indonesia. Dan dampaknya akan terasa di perekonomian kita.

Tapi tetap saja saya ngiler melihat pengembangan investasi DPLK di pasar saham yang mencapai 30%. Apalagi melihat pengembangan dana pensiun seorang teman yang naik pesat sekali. Dalam beberapa bulan, penambahannya sama dengan hasil investasi saya selama beberapa tahun!

“Ini kan jangka panjang, Pak. Nantinya juga akan naik lagi,” demikian salah seorang rekan di departemen saya menghibur, setelah mendengar misuh-misuh saya pasca membaca laporan tadi.

Saya ingat pernah mengatakan hal yang sama kepada semua rekan di kantor dalam briefing pagi. Saya bahkan membuat grafik yang menunjukkan, biarpun saham dalam jangka pendek bergerak naik-turun, tapi dalam jangka panjang trend-nya akan naik. “Jadi ibarat naik roller coaster, kalau main saham, harus punya jantung yang kuat,” demikian kesimpulan saya dalam briefing itu.

Tapi saat itu saya belum tahu bahwa 21% investasi DPLK saya akan lenyap terbawa reaksi pasar yang negatif. Setelah saya melihat dengan mata kepala sendiri hitam-di-atas-putih-nya, baru ketahuan bahwa jantung saya masih kurang terlatih untuk bertanding di pasar saham. Miris juga melihat rupiah yang lenyap itu. Dan sampai sekarang belum ada tanda-tanda kapan pasar modal akan kembali bullish dan uang saya yang pergi itu bisa kembali.

Lessons learned:
1. Memang ngomong itu lebih gampang kalau belum mengalami sendiri.
2. Selalu hindari menaruh semua telur di satu keranjang. Siapa tahu keranjangnya bolong.
3. Sebelum bertindak, ingat-ingat dulu, pernah tidak ngomong yang bertentangan dengan tindakan itu. Kalau ya, percayalah pada omongan sendiri.

(Previously a Note in Facebook Profile)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s